KEKAYAAN MOJOREJO CERMIN KEKAYAAN INDONESIA

Saat pertama kali kelompok Kami melakukan survey di desa Mojorejo ini, Kami sudah disambut dengan hangat oleh warga sekitar. Mereka sangat senang sekali ketika mendengar kabar bahwa Kami akan melakukan KKM di desa mereka. Banyak warga yang menawarkan tempat tinggal untuk Kami selama satu bulan. Namun, kami akhirnya memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren “Nurul Huda” yang dimana pengurusnya adalah empat bersaudara. Hal ini Kami pilih dikarenakan lokasi pondok tersebut dekat dengan tempat ibadah (Masjid).

Tidak berhenti sampai di situ, saat pelaksanaan KKM pun Kami sering dibantu oleh warga sekitar yang terkait kebutuhan makanan sehari-hari. Sehingga Kami sering sekali tidak mengeluarkan dana dalam urusan makanan.

Warga disana seperti mengganggap Kami keluarga. Anak-anak seperti menganggap Kami sebagai kakak mereka, para remaja menganggap Kami seperti adik mereka, dan orang tua juga memperlakukan Kami sebagaimana anak mereka sendiri.
Pada saat melakukan KKM, dua orang teman Kami melakukan penelitian di KWT (Kampung Wanita Tani) yang ada di RW 02. Di sana para wanita memiliki semacam organisasi yang mengurusi hasil tani mereka sendiri untuk menjualnya ke pasar baik dalam keadaan mentah maupun dalam keadaan sudah diolah menjadi produk siap konsumsi. Selain dalam bidang pertanian, para warga juga ada yang memiliki peternakan yang hasilnya mereka jual di pasar dalam keadaan sudah terpotong-potong (ada yang berprofesi sebagai tukang jagal).

Sekitar minggu kedua pelaksanaan KKM, Kami sekelompok dikatakan sangat beruntung dikarenakan pada saat itu Kami berkesempatan menyaksikan anak-anak dan para remaja dari organisasi “Forum Anak” dan “Karang Taruna” yang kebanyakan berasal dari RW 03 melakukan pertunjukan seni budaya bertajuk “Padang Bulan” yang dilaksanakan pada hari minggu dari pukul tiga sore sampai pukul sepuluh malam. Dan seperti biasa, para anak dan remaja tersebut menyambut dan menjamu Kami dengan baik sebagaimana tamu kehormatan. Sebelum acara Kami juga diizinkan mengikuti dan melihat proses latihan yang dilakukan oleh mereka. Acara ini menunjukkan bahwa anak-anak dan para remaja di desa Mojorejo masih memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan seni kebudayaan tradisional khusus kesenian asli Jawa Timur seperti “Jaran Kepang.”

Lalu, desa ini khususnya di dusun Ngandat dan RW 06 memiliki keunikan tersendiri. Dusun ini seperti daerah-daerah lain yang memiliki warga dengan agama yang beragam. Namun lebih uniknya, ada beberapa atau bahkan banyak warga yang berbeda agama tinggal dibawah atap yang sama dengan status keluarga. Salah satu keluarga itu adalah keluarga dari bapak kepala dusun Ngandat yang dalam hal ini adalah keluarga bapak Harto. Bapak Harto adalah seorang penganut agama Budha yang taat, sedangkan istri dan anaknya adalah penganut agama Islam. Tidak berhenti sampai disitu, bapak Harto juga memiliki kakak yang merupakan penganut agama Kristen. Kami mendapat informasi ini saat melakukan wawancara langsung kepada bapak Harto. Kami dan rekan-rekan juga berkesempatan melakukan tour ke Vihara dengan ditemani oleh bapak Harto untuk belajar, melihat-lihat, dan menambah pengalaman tentang keragaman di desa ini.

Karena empat hal di atas (Keramahan, Kekayaan hasil alam, kebudayaan, dan toleransi), Kami menganggap bahwa desa Mojorejo ini adalah sebuah cerminan dari negara Indonesia secara keseluruhan.

(Habib, dkk)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai